Yang Keliru Tentang Demam Berdarah
-dlm.jpg)
Ilustrasi (Foto: getty image)
Jakarta, Demam Berdarah Dengue (DBD) tetap menjadi masalah kesehatan besar di Indonesia dengan angka kejadian dan kematian yang terus meningkat. Masih banyak orang yang salah memahami tentang DBD.
Demam berdarah ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus Dengue. DBD memang sering terjadi pada anak-anak, tapi sebenarnya DBD bisa menyerang siapa saja tanpa memandang usia.
Beberapa orang yang terinfeksi virus ini ada yang menimbulkan gejala, tapi ada juga yang tidak bergejala sama sekali.
Gejala khas DBD antara lain:
- Keluhan demam tinggi secara terus-menerus selama 2 hari atau lebih
- Nafsu makan berkurang
- Ada riwayat DBD pada lingkungan sekitar dalam jarak 200-400 meter
- Ada pola deman yang khas, menyerupai punuk unta
- Adanya kebocoran plasma darah, yang terlihat dari bintik-bintik merah di tubuh atau bagian tubuh lain
- Hepatomegali (pembesaran hati)
- Kegagalan sikulasi
“Selama ini DBD masih menjadi kasus yang menakutkan dan banyak orangtua yang panik bila anaknya mengalami demam tinggi. Dan ternyata banyak salah pemahaman yang beredari di masyarakat,” ujar dr Alan R. Tumbelaka, SpA (K) dari Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis, Departemen Ilmu Kesehatan
Anak FKUI-RSCM, dalam acara konferensi pers Ulang Tahun & Seminar Ilmiah Bidan 2010, di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Selasa (29/6/2010).
dr Alan mengungkapkan ada banyak kesalahpahaman tentang kasus DBD. Salah satunya, banyak orang yang menganggap bahwa kasus kematian DBD terjadi karena adanya pendarahan, seperti mimisan dan lebam di tubuh.
Padahal, yang perlu diperhatikan adalah adanya renjatan (shock) pada masa-masa kritis demam, yaitu pada saat suhu tubuh mulai turun, sekitar hari ke-3 sampai hari ke-6.
Kasus kematian DBD terjadi karena shock yang terjadi tidak ditangani dengan baik yang mengakibatkan pendarahan hebat. Jadi yang perlu diwaspadai jangan sampai ada shock yang terjadi.
Tanda-tanda shock pada DBD adalah:
- Tampak gelisah dan lemah
- Kesadaran menurun
- Napas cepat
- Dapat disertai nyeri perut
- Perfusi perifer atau capillary refill (tingkat isi ulang darah kapiler kosong) menurun
- Nadi cepat dengan volume mengecil
- Tekanan darah dan tekanan nadi menurun
- Ujung tangan dan kaki terasa dingin
- Diuresis (kelainan pada sistem urinase dalam memproduksi urine) berkurang
Selain itu, ada pula yang perlu diluruskan dalam menangani dan mengobati DBD, antara lain:
- Parasetamol adalah satu-satunya obat penurun demam yang direkomendasikan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk DBD
- Pasien yang demam dan menunjukkan gejala DBD jangan diberikan asetil salisilat (aspirin), asam mefenamat, steroid, ibuprofen. Zat kimia ini dapat berisiko menambah pendarahan pada kasus DBD
- Tidak perlu memberikan antibiotik, karena DBD disebabkan oleh virus
- Pengobatan DBD sebenarnya cukup dengan istirahat dan minum cukup air (> 5 gelas sehari)
- Susu, jus buah dan air beras tidak terlalu dianjurkan karena tidak banyak membantu. Cukup dengan banyak minum air putih saja.
(mer/ir)
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Sumber : http://health.detik.com


